Senin, 19 Mei 2014

DreadOut, game buatan anak Indonesia


DreadOut adalah game ber-genre horror yang dikembangkan sekaligus dirilis oleh Digital Happiness di Steam pada tanggal 15 Mei 2014.

Game ini bercerita tentang Linda, kawan-kawan dan gurunya yang sedang melakukan karyawisata. Sayangnya, jembatan yang menghubungkan jalan tempat mobil mereka melintas longsor. Merekapun berkeliling untuk mencari jalan alternatif.



Saat awal bermain Linda mengenakan seragam SMA, bukan Kebaya

Game yang berhasil mengumpulkan dana pengembangan melalui Kickstarter ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu Act.1 dan Act.2 dimana downlaodable content (DLC) untuk Act.2 akan bisa didapatkan secara gratis, walaupun waktu perilisan DLC tersebut belum diberitahukan.
Untuk memainkan game ini, gamers membutuhkan spesifikasi PC yang menengah keatas dimana sistem operasi yang digunakan harus Windows 7 atau 8 64-bit. Semoga persyaratan ini segera mendapatkanupdate sehingga gamers pengguna sistem operasi 32-bit bisa ikut menikmati suasana horor di game ini. Berikut adalah spesifikasi minimal dan yang direkomendasikan untuk DreadOut.



Sebelum memainkan game ini, sebaiknya gamers berdoa terlebih dahulu. Jika tidak berani sendirian, kru KotGa sarankan untuk mengajak seseorang untuk menemani bermain (ini yang kru KotGa lakukan) agar situasi jadi lebih kondusif dan mengurasi rasa ngeri. Saat awal masuk game ini, gamers akan disambut dnegan musik halus yang membawa kesan horor. Cutscene saat memaulai game inipun diawali denganLingsir Wengi, lagu yang dipercaya dapat mendatangkan Miss K (baca: Kuntilanak).

Apabila gamers dan teman yang mendampingi tidak sanggup untuk mendengarkan lagu tersebut, solusinya adalah tekan tombol ESC untuk skip cutscene, tapi sayang rasanya jika atmosfer horor itu dilewatkan begitu saja.

Petualangan atau bisa dikatakan juga sebagai masalah dimulai ketika mereka sampai pada bagunan sekolah tua. Situasi di daerah yang mereka datangi, termasuk sekolah itu sangat sepi dan porak-poranda. Linda dan kawan-kawan yang penasaran akhirnya masuk dalam bangunan itu dan satu per satu dari mereka pun akhirnya terpisah dan terjebak di dalam sekolah.

Linda, gadis yang merupakan peran utama dalam game ini harus bisa keluar dari sekolah tersebut dengan berbekal ponsel pintar yang dilengkapi dengan lampu senter dan kamera yang mampu mengusir roh halus.


Di depan sekolah tua

Hantu pada Act.1 ini tidak begitu banyak, kru KotGa menghitung hanya ada 4 hantu. Kru KotGa tidak akan menceritakan hantu apa saja yang ada pada game ini, agar gamers lebih terkejut dengan apa yang akan muncul nanti.

Misi Linda tidak begitu sulit, gamers dapat melihat misi apa yang harus dijalankan oleh Linda pada di buku panduan dengan menekan tombol ESC. Selain itu, ada beberapa fitur yang dapat diihat disana yang salah satunya adalah memindahkan foto-foto yang ditangkap oleh smartphone ke folder Gallery. Apabila foto tidak dipindahkan, maka sistem akan menghapus foto-foto di smartphone secara otomatis dan menggantinya dengan foto baru.

Inti dari misi yang harus dijalankan oleh Linda adalah mengambil kunci yang dibawa oleh salah satu hantu dan keluar dari sekolah tersebut. Namun untuk menyelesakan misi itu, Linda harus menjelajahi seisi sekolah dengan pencahayaan yang minimal, pencahayaan yang berasal dari smartphone-nya saja sehingga pandangan di game ini sangat terbatas.

Digital Happiness menghadirkan konten-konten lokal yang sangat ikonik dalam DreadOut, khususnya apa yang seharusnya ada di sekitar lingkungan sekolah. Misalnya gerobak jajanan, gerobak DVD bajakan, tambal ban juga ada, oplet si Doel, motor tua bermerk RX-Queen dari Yamahmud (gamers pasti tahu itu "plesetan" dari motor apa) hingga halte bus dengan gambar monyet dengan tulisan "Gantengin JRG".

Hal tersebut ada di awal permainan, gamers harus mengesplorasi lingkungan di sekitar sekolah sebelum memutuskan untuk masuk. Pemandangannya sangat indah dan Indonesia sekali.


Tambal ban


RX-Queen, Yamahmud


Gerobak DVD bajakan


Oplet Si Doel


Gantengin JRG

Kesan menyeramkan semakin terasa saat terjebak di sekolah. Mungkin gamers dapat mengingat situasi di sekolah ketika sore atau malam hari, pada saat siswa-siswi di sekolah sudah mulai sepi atau tidak ada siapapun. Situasi meja dan kursi yang berantakan, kondisi makar mandi yang kotor yang snagat menggambarkan keadaan sesungguhnya toilet sekolah di Indonesia. Detail seperti itulah yang membuat game ini semakin memancarkan kesan horor yang kuat, khususnya bagi orang Indonesia karena tentu saja mereka sangat mengetahui kondisi seperti itu.

Walaupun game ini keren, namun ada beberapa bagian yang kru KotGa rasa kurang maksimal seperti grafis yang terkadang terlihat aneh dan kurang halus. Kemudian kamera smartphone yang tidak bisazoom-in dan out rasanya kurang canggih. Selain itu, cahaya dari smartphone untuk menerangi pandangan pun rasanya kurang fokus dan kesannya Linda memiliki pemikiran tersendiri untuk menerangi objek yang ingin dilihat, walaupun hal itulah yang menjadikan suasana jadi lebih tidak terduga.

Selain pemandangan lingkungan dan hantu yang muncul secara tiba-tiba. Faktor yang memabuat kesan horor di game ini semakin kuat adalah musiknya. Seperti yang diungkapkan pada awal artikel bahwa kru KotGa memainkan game ini sambil didampingi oleh teman, nah, teman kru KotGa juga merasakan hal yang sama dimana musik pada game ini mampu menampilkan kesan horor yang sangat kental apalagi momen pemutaran musik itu sangat sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung.

Bukan karena DreadOut merupakan game buatan lokal, lalu kru KotGa membeikan nilai tinggi begitu saja pada game ini. Tidak. Namun memang secara keseluruhan, kru KotGa sangat puas dengan racikan antara hantu dan suasana menyeramkan di DreadOut. Walaupun kru KotGa akui grafis yang ditampilkan di game ini tidak sebagus game horor buatan pengembang luar negeri lain seperti Slender, Outlast dan Amnesia. Namun kesan menyeramkan yang ditampilkan di DreadOut terasa lebih kuat dari kompetitornya.


DreadOut Act.1 dapat diselesaikan dalam waktu yang cukup singkat (apabila bermain dengan serius) dimana cerita pada game ini akan berlanjut ke Act.2 yang belum diketahui waktu perilisannya. Namun tidak perlu khawatir mengenai DLC tersebut karena gamers dalat mengunduhnya secara gratis, seperti yang kru KotGa beritakan di artikel pada tautan berikut ini (klik).

Bagi gamers yang ingin merasakan serunya bermain game horor dengan konten yang sangat Indonesia, maka gamers harus mencoba game ini. DreadOut sudah bisa diunduh dari Steam seharga 14,99. Kru KotGa rasa harga itu sangat sesuai, mengingat nantinya DLC Act.2 bisa didapatkan secara gratis.

DreadOutSteam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar